Strategi Dan Model Pembelajaran Bahasa Arab
NAMA : Bung Kasno Abubakar
NIM : 18133016
PRODI : Pendidikan Bahasa Arab1
SEMESTER : IV (Empat)
MATA KULIAH : Strategi Dan Model Pembelajaran Bahasa Arab
Dalam
proses pembelajaran bahasa, diperlukan kreativitas guru dalam memilih dan
memadukan beberapa metode dan teknik pembelajaran. Oleh karena itu para guru
bahasa dan mahasiswa jurusan pendidikan bahasa perlu memiliki pengetahuan dan
pemahaman tentang berbagai pendekatan, metode, teknik, dan termasuk strategi
pembelajaran bahasa. agar dalam kegiatan pembelajaran dapat terlaksana dengan
maksimal.
Untuk
itu kami akan merangkum/menguraikan hal- hal yang berkaitan dengan beberapa
strategi pembelajaran dalam bahasa khususnnya dalam bahasa Arab.
A.
Pengertian
Strategi Pembelajaran
Strategi berasal dari
bahasa yunani yaitu strategos yang artinya suatu usaha untuk mencapai suatu
kemenangan dalam suatu peperangan awalnya digunakan dalam lingkungan militer
namun istilah strategi digunakan dalam berbagai bidang yang memiliki esensi
yang relatif sama termasuk diadopsi dalam konteks pembelajaran yang dikenal
dalam istilah strategi pembelajaran.
Menurut J.R David (1976)
strategi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan
yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sementara itu dick and
Carey (1985) berpendapat bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi
dan prosedur pembelajaran yang digunakan bersama-sama untuk menimbulkan hasil
belajar siswa/peserta latih.
Merujuk dari pendapat diatas strategi pembelajaran dapat dimaknai secara sempit dan
luas. Secara sempit strategi mempuanyai kesamaan dengan metoda yang berarti
cara untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Secara luas strategi
dapat diartikan sebagai suatu cara penetakapan keseluruhan aspek yang berkaitan
dengan pencapaian tujuan pembelajaran, teramasuk perencanaan, pelaksanaan dan
penilaian.
B.
Beberapa
Yang Berkaitan dengan Strategi Pembelajaran
Setelah mencermati konsep
strategi pembelajaran, kita perlu mengkaji pula tentang istilah lain yang erat
kaitannya dengan strategi pembelajaran dan memiliki keterkaitan makna yaitu:
1.
Pendekatan
Pembelajaran
Dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan,
dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Artinya
pendekatan merupakan suatu langkah awal untuk mengidentifikasi kebutuhan
pembelajaran baik dari pendidik ataupun peserta diidiknya. Yang kemudian dari
pendekatan tersebut dijabarkan pada model pembelajaran, strategi atau metode
pembelajaran, teknik pembelajaran serta taktik pembelajaran.
2.
Model
Pembelajaran
Model
Pembelajaran ialah, pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran dikelas maupun tutorial. Menurut Arends yang dikutip dalam bukunya
Agus Suprijono, menyebutkan bahwa model pembelajaran mengacu pada pendekatan
yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran,
tahap-tahap dan kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan
kelas.
3.
Strategi
Pembelajaran
Strategi
adalah rancangan serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu; sedangkan
metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi. Dengan
demikian stretegi dan metode itu tidak bisa dipisahkan. Strategi dan metode
pembelajaran harus dirancang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus
dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif
dan efisien.
4.
Metode
Pembelajaran
Metode
merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam
kegiatan nyata agar tujuan yang telah tersusun tercapai secara optimal. Metode
digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan, dengan kata lain
metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.
5.
Teknik
Pembelajaran
Teknik
adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu
metode. Misalnya cara yang harus dilakukan agar metode ceramah berjalan efektif
dan efisien. Dengan demikian, sebelum seseorang melakukan proses ceramah
sebaiknya memperhatikan situasi dan kondisi. Misalnya, berceramah pada siang
hari setelah makan siang dengan jumlah siswa yang banyak tentu saja akan
berbeda jika ceramah itu dilakukan pada pagi hari dengan jumlah siswa yang
terbatas.
6.
Taktik
Pembelajaran
Taktik
adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu.
Taktik sifatnya lebih individual walaupun dua orang sama-sama menggunakan
metode ceramah dalam situasi dan kondisi yang sama sudah pasti mereka akan
melakukannya dengan cara yang berbeda, misalnya dalam taktik menggunakan
ilustrasi atau menggunakan gaya bahasa agar materi yang disampaikan mudah
dipahami.
C.
Komponen Umum
Strategi Pembelajaran
Untuk
melaksanakan strategi pembelajaran, maka harus ada komponen-kompenen yang harus
diperhatikan. Menurut Dick dan Carey (1978) dalam Hamzah B.Uno, menyebutkan
bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu:
1.
Kegiatan
Pembelajaran Pendahuluan
Kegiatan
pendahuluan sebagai bagian dari suatu sistem pembelajaran secara keseluruhan
memegang peranan penting. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik
akan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Secara
spesifik, kegiatan pembelajaran pendahuluan dapat dilakukan melalui teknik-teknik
berikut, yaitu:
a.
Menjelaskan tujuan pembahasan khusus yang
diharapkan dapat dicapai oleh semua peserta didik di akhir kegiatan
pembelajaran. Dengan demikian peserta didik akan mengetahui ketrampilan dan
manfaat yang akan didapat dari pokok pembahasan tersebut. Demikian juga, guru
dalam menyampaikan tujuan hendaknya menggunakan kata-kata dan bahasa yang mudah
dimengerti oleh peserta didik. Pada umumnya penjelasan dengan menggunakan
ilustrasi kasus dalam kehudupan sehari-hari yang dialami peserta didik akan
lebih mudah untuk dipahami.
b.
Lakukan appersepsi, berupa kegiatan yang
merupakan jembatan antara pengetahuan lama dan pengetahuan baru yang akan di
pelajari. Disini guru dapat menunjukkan eratnya hubungan pelajaran yang akan
dipelajari oleh peserta didik. Dengan kegiatan ini dapat menimbulkan rasa mampu
dan percaya diri sehingga dapat menghilangkan rasa cemas dan takut menemui
kesulitan atau kegagalan.
Dalam
Pembelajaran Pendahuluan, perlunya menjelaskan tujuan pembelajaran , karena
tujuan pembelajaran memiliki ciri penting dalam kegiatan belajar mengajar
dengan tujuan memberikan arah yang jelas dan dapat diartikan sebagai suatu
cita-cita yang ingin dicapai pelaksana suatu kegiatan. Dengan membentuk peserta
didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang disebut dengan kegiatan
pembelajaran “sadar tujuan”.
Jadi,
pentingnya pembelajaran pendahuluan ini agar peserta didik dapat paham
apa tujuan dan manfaat dari pokok bahasan tersebut
2.
Penyampaian
Informasi
Penyampaian
informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan yang paling penting dalam
proses pembelajaran, padahal ini hanya salah satu bagian dari komponen strategi
pembelajaran. Artinya tanpa adanya kegiatan pendahuluan yang menarik yang
memotivasi peserta didik dalam belajar maka kegiatan penyampaian informasi ini
jadi tidak berarti.
Dalam
kegiatan ini, guru juga harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang
dihadapinya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian
informasi adalah urutan ruang lingkup dan jenis materi:
a.
Urutan
Penyampaian
Urutan
penyampaian materi pelajaran harus menggunakan pola yang tepat. Urutan materi
yang diberikan berdasarkan tahapan berpikir dari hal-hal yang bersifat konkret
ke hal-hal yang bersifat abstrak atau dari hal-hal yang sederhana atau mudah
dilakukan ke hal-hal yang lebih kompleks atau sulit dilakukan. Urutan
penyampaian informasi yang sistematis akan memudahkan peserta didik cepat
memahami apa yang ingin disampaikan oleh gurunya.
b.
Ruang lingkup
materi yang disampaikan
Besar kecilnya materi yang disampaikan atau
ruang lingkup materi sangat bergantung pada karakteristik paserta didik dan
jenis materi yang di pelajari. Umumnya ruang lingkup materi sudah tergambar
pada saat penentuan tujuan pembelajaran.
Yang
perlu diperhatikan oleh guru dalam memperkirakan besar kecilnya materi adalah:
1)
Apakah materi akan disampaikan dalam bentuk
bagian-bagian kecil seperti dalam pembelajaran terprogram (Programmed
Instruction)
2)
Apakah materi akan disampaikan secara
global/keseluruhan dulu baru ke bagian-bagian. Keseluruhan dijelaskan melalui
pembahasan isi buku, dan selanjutnya bagian-bagian dijelaskan melalui uraian
per bab.
c.
Materi yang
akan disampaikan
Materi
pelajaran umumnya merupakan gabungan antara jenis materi yang terbentuk
pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci), ketrampilan
(langkah-langkah, prosedur, keadaan dan syarat-syarat tertentu) dan sikap
(berisi pendapat, ide, saran atau tanggapan) (Kemp, 1997). Karena itu, dalam
menentukan strategi pembelajaran, guru harus terlebih dahulu memahami jenis
materi pelajaran yang akan disampaikan agar diperoleh strategi pembelajaran
yang sesuai.
3.
Partisipasi
Peserta didik
Proses
pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan
latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaranyang
sudah ditetapkan. Terdapat beberapa hal yang penting yang berhubungan dengan
partisipasi peserta didik, yaitu:
a.
Latihan dan praktek seharusnya dilakukan
setelah peserta didik diberi informasi tentang pengetahuan, sikap atau
ketrampilan tertentu. Selanjutnya peserta didik diberi kesempatan untuk
berlatih atau mmempraktekkan pengetahuan, sikap atau ketrampilan tersebut.
b.
Umpan Balik
Segera
setelah peserta didik menunjukkan perilaku sebagai hasil belajarnya, maka guru
memberikan umpan balik (feedback) terhadap hasil belajar tersebut.
Melalui umpan balik yang diberikan oleh guru, peserta didik akan segera
mengetahui apakah jawaban yang merupakan kegiatan yang telah mereka lakukan itu
benar/atau salah, tepat/tidak tepat atau ada sesuatu yang diperbaiki,
diharapkan perilaku tersebut akan dihilangkan atau peserta didik tidak akan
melakukan kesalahan serupa.
4.
Tes
Kegiatan
tes yang berbentuk penilaian dala proses belajar merupakan kegiatan mutlak yang
harus dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu
untuk memiliki kemampuan dalam menilai hasil belajar siswa. Penilaian belajar
dalam kegiatan akhir pembelajaran (posttest), tujuannya adalah untuk
mengetahui sejauh mana kemampuan siswa setelah mengikuti pelajaran tersebut.
Pelaksanaan
tes biasanya dilakukan diakhir kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi
berupa materi pelajaran pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta didik
melakukan latihan dan praktik.
Perlu
diperhatikan sebelum melaksanakan kegiatan penilaian akhir, guru harus
mengkondisikan siswa, supaya siswa secara maksimal dapat mengorganisasikan
(pemahaman) kembali tentang materi pelajaran yang telah dibahas.
Setelah
melaksanakan kegiatan penilaian guru harus mengkaji apakah hasil belajar
tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran? Apakah tingkat ketercapaian siswa
dalam kelas/individu terhadap tujuan pembelajaran sudah mencapai pada
batas/tingkatan (presentase) minimal? Dari hasil semuanya, maka guru akan
memperoleh gambaran kegiatan tindak lanjut yang bagaimana yang harus diberikan
pada siswa.
5.
Kegiatan
Lanjutan
Kegiatan
lanjutan/tindak lanjut npembelajaran dilakukan di luar jam pelajaran, sebab
kegiatan akhir alokasi waktunya relatif sedikit. Melaksanakan kegiatan lanjutan
pembelajaran secara prinsip ada hubungannya dengan kegiatan belajar sebelumnya.
Kegiatan
yang dikenal dengan istilah “follow up” dari suatu hasil kegiatan
yang telah dilakukan seringkali tidak dilaksanakan dengan baik oleh guru. Dalam
kenyataannya, setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta
didik yang berhasil dengan bagus atau di atas rata-rata (a) hanya menguasai
sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat
dicapai, (b) peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berbeda sebagai
konsekuensi dari hasil belajar yang bervariasi tersebut.
Jadi
kegiatan lanjutan ini dilakukan untuk menindak lanjuti hasil penilaian peserta
didik pada akhir penbelajaran tentunya dengan tindak lanjut yang berbeda setiap
peserta didik. Bagi peserta didik yang tidak mencapai hasil sesuai dengan
tujuan pembelajaran makalah peserta didik akan diberikan remedial dan bagi
peserta didik yang sudah mencapai nilai yang sesuai dengan tujuan dari
pembelajaran itu, maka akan mendapatkan pengayaan.
Variasi
Strategi pembelajaran akan membantu siswa untuk secara aktif dapat menggunakan
sel-sel otak mereka untuk turut serta memecahkan persoalan, menemukan ide pokok
dari suatu materi pelajaran, dan tentu saja secara aktif akan mendominasi
aktifitas pembelajaran. Dengan cara ini, terciptalah suasana yang lebih
menyenangkan dan membisakan karena hasil belajar dapat dimaksimalkan. Adapun
jenis-jenis strategi pembelajaran Bahasa Arab adalah sebagai berikut :
1.
Metode
Pembelajaran Menyimak
Pembelajaran
menyimak ada dua macam, yaitu: pertama, menyimak untuk keperluan pengulangan.
Menyimak dalam model ini menuntut siswa untuk menyimak teks kemudian mengulang
dari apa yang didengarnya. Kedua, menyimak untuk keperluan memahami teks dengan
baik, dapat membedakan mana ide pokok dan mana ide tambahan, dapat memahami
alur cerita dalam teks dan sebagainya. Strategi yang dapat digunakan dalam
pembelajaran menyimak adalah sebagai berikut:
a.
Ta’lim Muta’awin. Strategi ini memberi
kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi hasil belajar dari materi yang
sama dengan cara berbeda dengan membandingkan catatan hasil belajar.
b.
Talkhis Magza. Metode ini dapat menguji
kemampuan menyimak siswa terhadap isi cerita. Jawaban siswa terhadap pertanyaan
(apa, bagaimana, mengapa, kapan, dimana) yang kemudian disintesiskan ke dalam
suatu kalimat singkat, padat, dan jelas sehingga dapat menumbuhkan proses
berfikir kreatif kritis terhadap topik yang diberikan.
c.
Istima’ Mutabadil. Metode ini dapat mengiringi
siswa untuk tetap konsentrasi dan terfokus pada materi pelajaran yang sedang
disampaikan. Ia berguna untuk membentuk kelompok-kelompok yang bertanggung
jawab pada tugas yang terkait dengan materi.
d.
Istima’ al-Aghani. Metode ini membantu siswa
untuk selalu tanggap dengan cermat, dan tepat dalam memahami dan memaknai syair
dan dinyanyikan.
e.
Istima’ al-Ma’lumat au al-Akhbar. Pada metode
ini, konsentrasi siswa akan terfokus untuk tetap utuh meskipun dalam rentang
waktu yang cukup lama. Siswa dapat menyimak dengan seksama sebuah informasi
sambil mendalami, keruntutan bahasanya, dan tingkat komunikasinya.
f.
Istima’ al-Musykilat. Metode ini digunakan
untuk meningkatkan rasa empati siswa pada sesamanya. Siswa dapat memahami keluh
kesa siswa yang lain dan menawarkan solusi edukatif dalam penyelesaiannya.
2.
Metode
Pembelajaran Berbicara (Kalam)
Keterampilan
berbicara dapat terwujud setelah keterampilan menyimak dan mengucapkan
kosa-kata bahasa Arab. Keterampilan ini dapat berupa percakapan, diskusi,
cerita atau pidato.
Dalam
pengajaran kalam, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
a.
Siswa harus mempunyai topik yang dibicarakan.
b.
Siswa harus mempunyai kosa-kata yang relevan dengan topik.
Strategi
yang dapat digunakan dalam pembelajaran kalam adalah sebagai berikut:
a.
Khibrat Mutsirah. Strategi ini digunakan untuk
memotivasi siswa agar dapat mengungkapkan pengalaman-pengalaman yang pernah
dialaminya berkaitan dengan teks yang akan diajarkan dan untuk mengajak
keterlibatan siswa dalam melihat pengalaman mereka sejak awal pelajaran.
b.
Ta’bir al-Ara’ al-Ra’issiyyah. Strategi ini
penting untuk mengasah keberanian siswa dalam mengungkapkan bahasa Arab secara
spontanitas kreatif, meski pada awalnya perlu penekanan bagi siswa untuk berani
tampil, namun bila terbiasa ia akan melahirkan iklim yang kondusif lagi
menyenangkan, di mana siswa mendapatkan kebebasan berekspresi melalui bahasa
mereka sendiri.
c.
Tamtsiliyyah. Strategi ini adalah sebuah
aktiftas yang membutuhkan kemampuan siswa dalam mengekspesikan dialek bahasa
Arab fusha dengan fasih sesuai makhrajnya, di samping dalam mengeksplorasikan
kemampuannya dalam bermain peran.
d.
Ta’bir Mushawwar. Melalui bantuan media gambar,
siswa dapat membahasakan materi ajar dari presepsi yang ia bisa tangkap uraian
guru melalui bahasanya sendiri.
e.
Ya’lab Daur al-Madurris. Strategi ini memberi
kesempatan kepada setiap siswa untuk dapat berperan sebagai guru bagi kawan-kawanya.
f.
Jial Fa’laal. Tema kontroversial adalah media
berharga yang dapat menyulut motivasi belajar dan kedalaman pemikiran siswa
dalam menghadirkan argumentasi penganut pendapatnya, meski mungkin bertentangan
dengan keyakinannya.
3.
Metode Pembelajaran Membaca (Qira’ah)
Dalam
konteks pembelajaran bahasa Arab, membaca memiliki urgenitas tersendiri yakni:
a.
Membaca merupakan kunci untuk membuka khazanah
pengetahuan dan kebudayaan islam.
b.
Long Life Education tidak akan terwujud kalau
yang melakukannya tidak dapat membaca.
c.
Memahami khazanah intelektual klasik dan
modern.
Terdapat
beberapa kesalahan dalam bacaan yang harus dihindari, di antaranya:
a.
Tidak memperhatikan cara membunyikan huruf
sesuai dengan makhrajnya.
b.
Tidak ada alunan suara sesuai dengan tempatnya.
c.
Mulai membaca tanpa memperhatikan dahulu
tempat-tempat berhenti, seperti: koma, titik koma, dan titik.
d.
Menyaringkan suara yang tidak perlu.
Strategi
yang digunakan dalam ketermpilan membaca adalah sebagai berikut:
a.
Qira’ah Muwajjahah. Qira’ah Muwajjahah merupakan
salah satu strategi untuk mempelajari teks wacana dengan menggunakan penuntun
yang berupa pertanyaan-pertanyaan, bagan, skema, dan sebagainya.
b.
Mudzakarat al-Talamidz. Strategi ini digunakan
untuk meningkatkan keaktifan dan keberanian siswa untuk mencari tahu sendiri
dengan mempertanyakan hal-hal yang belum difahami dari materi bacaan.
c.
Qira’ah Jahriyah. Strategi ni dapat membantu
siswa dalam menghadirkan pemahaman dan konsentrasi secara tida langsung
terhadap bacaan. Penekanan strategi ini terlihat bukan hanya dalam memahami
teks bacaan, tapi juga pada ekspresi bahasa bacaan bahasa Arab yang baik dan
benar.
d.
Akhziyat al-Nash. Strategi ini digunakan untuk
mempelajari teks wacana yang mempunyai beberapa segmen. Siswa dibagi menjadi
beberapa kelompok sesuai jumlah segmen yang ada dalam teks wacana tersebut.
e.
Talkhis Jama’i. Dalam strategi ini team
building perlu dibangun semenjak awal, karena ia menuntut adanya kerjasama
kelompok dalam bekerja. Strategi ini dapat membantu siswa menjadi lebih akrab
dan saling berinteraksi dalam menuangkan gagasannya dalam memahami ide cerita.
f.
Tartib al-Nash. Strategi ini digunakan untuk
mengetahui kemampuan membaca dan memahami siswa atas teks bacaan. Strategi ini
tidak ditujukan bagi siswa pemula, tapi untuk siswa tingkat lanjutan yang tela
mengenal struktur kalimat bahasa Arab.
4.
Metode
Pembelajaran Menulis (Kitabah)
Keterampilan
menulis harus diajarkan secara bertahap, mulai tahap terendah kemudian pada
tahap yang lebih tinggi
Strategi
yang dapat digunakan untuk pembelajaran menulis ini adalah sebagai berikut:
a.
Musyrakat al-Kitabah al-Fa’alah. Salah satu
strategi yang dapat membuat siswa siap mengeksplorasikan gagasannya lewat
tulisan. Strategi ini dapat digunakan untuk melihat tingkat kemampuan siswa
dalam menulis, di samping untuk membentuk kerjasama tim.
b.
Ta’bir al-Shuwar. Strategi ini sangat baik
dipakai untuk melibatkan siswa dalam menemukan dan menuntut ide cerita secara
sistematis.
c.
Mafahin Ra’isiyyah. Strategi ini bermanfaat
untuk merangkum isi teks wacana yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan
atau pembicaraan. Rangkuman tersebut bebrbentuk gambar atau diagram tentang
konsep-konsep yang saling berhubungan dengan garis panah.
d.
Kitabat al-Nasyarat. Strategi ini digunakan
untuk melibatkan siswa sejak awal dalam merespon proses belajar mangajar di
dalam kelas, di samping guru dapat mengetahui efektifitas pembelajaran.
e.
Kitabat al-Ma’lumat. Strategi ini cocok
digunakan untuk meningkatkan rasa peduli siswa terhadap problematika kehidupan
kemanusiaan di luar kelas. Dengan strategi ini, siswa diharapkan melihat
lingkungan sekitar dan permasalahan yang ada sebagi bagian dari kehidupannya.
f.
In’ikas al-Maudlu’. Strategi ini dapat menjadi
eksperimen menarik bagi siswa untuk mengeksplorasikan objek langsung tersebut
melalui kaca matanya.
g.
Mudzakarah Muwajjahah. Dalam strategi ini, guru
hendaknya telah menyiapkan bagan atau skema yang dapat membantu siswanya
membuat catatan-catatan kecil dari meteri yang akan disampaikan. Ada banyak
pola untuk strategi ini, salah satunya adalah mengisi titik-titik.
5.
Metode
Pembelajaran Kosa Kata (Mufradat)
Kosa
kata merupakan bagian yang pokok dalam mempelajari bahasa, karena hakekat
bahasa adalah sekumpulan kosa kata. Kosa-kata menjadi kebutuhan pokok ketika
belajar bahasa Arab. Bagaimana mungkin kita bisa berbicara kalau kita tidak
memiliki kosa-kata?, bagaimana mungkin kita akan membuat satu kalimat kalau
kita tidak menghafal satu persatu kosa-kata yang kita temui ketika kita belajar
bahasa Arab.
Siapkan
buku kecil atau kertas khusus untuk kita menulis setiap kosa-kata yang kita
temui, bedakan dan sendirikan antara kata kerja dengan kata benda atau kata
sifat. Dalam menulis kata kerja tulis juga bentuk madhi dan mudhari`nya, begitu
juga dalam menulis kata benda tulis bentuk mufrad dan jama`nya.
Strategi
yang digunakan adalah sebagai berikut:
a.
Al-Kalimat al-Mutaqathi’ah. Strategi ini
digunakan untuk lebih memantabkan penguasaan kosa kata dari teks wacana yang
telah dipelajari siswa. Ia dapat digunakan sebagai strategi pembelajjaran yang
menyenangkan tanpa kehilangan esensi belajar yang berlangsung.
b.
Al-Kalimat al-Musalsalah. Strategi pembelajaran
ini bertujuan agar siswa mempunyai pembendaharaan kata yang bervariasi dan
mampu pula merangkainya dengan tepat dalam struktur kalimat bahasa Arab.
c.
Ta’bir al-Kalimat al-Fabi’iyyah. Strategi ini
fokus pada kemampuan siswa memproduksi kata dengan cepat dalam waktu yang
relatif singkat.
d.
’Ardl al-Shuwar. Strategi ini dapat mendorong
siswa untuk berekspresi dengan bebrbagai pembendaharaan kata yang terkait
dengan objek maupun gambar.
e.
Al-Kalimat al-Gharibah Takhru. Strategi ini
menuntut siswa untuk lebih teliti dalam menelaah kalimat. Strategi ini
sebenarnya merupakan pengembangan dari strategi ikhtiyar al-kalimat.
f.
Kalimah Muwajjahah. Strategi ini cocok bagi
siswa untuk mengetahui kata-kata mejemuk dalam bahasa Arab dengan cepat dan
tepat.
6.
Metode
Pembelajaran Gramatika (Nahwu dan Shorof)
Para
pakar bahasa menyatakan bahwa mempelajari gramatikal bukanlah merupakan tujuan,
tetapi merupakan media untuk mengevaluasi kalam dan kitabah seseorang. Pada
perkembangan terkini, pengajaran gramatika mulai berubah pola ajar dengan
mengaitkannya dengan kebutuhan real bahasa keseharian peserta didik yaitu
berkisar pada pola-pola (uslub) yang digunakan dalam teks wacana, teks istima’
atau membahas kesalahan-kesalahan yang ada pada hasil karangan peserta didik,
baik kesalahan individu atau kesalahan umun. Pengajaran gramatika yang
berdasarkan kebutuhan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh peserta didik,
terutama agar terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam menulis dan berbicara.
Menurut
metode gramatika ini, pengetahuan kaidah-kaidah tata-bahasa dianggap lebih
penting daripada kemahiran untuk menggunakan tata-bahasa itu. Kegiatan-kegiatan
berupa latihan ucapan atau penggunaan bahasa secara lisan sama
sekali diabaikan.
Strategi
yang dapat digunakan dalam mengajarkan gramatika adalah Muskilat al-Thullab,
Strategi pembelajaran ini dapat mengakomodasi kebutuhan dan harapan seluruh
siswa, sehingga siswa yang pemalu sekalipun, karena ia memberi peluang kepada
siswa menanyakan hal-hal yang belu dimengerti dari gramatika yang telah
diajarkan.
7.
Metode
Pembelajaran Terjemah
Berdasarkan
namanya, metode terjemah menitik beratkan kegiatan-kegiatannya berupa cara
penerjemahan bacaan-bacaan. Biasanya, metode ini diawali oleh penerjemahan
bahasa asing ke dalam bahasa pelajar, dan kemudian sebaliknya. Seperti halnya,
metode gramatika, metode terjemah ini sangat cocok untuk kelas yang berjumlah
besar dan tidak memerlukan seorang pengajar yang harus memiliki penguasaan
bahasa asing secara aktif atau pendidikan khusus untuk mengajar bahasa. Metode
ini tidak hanya mudah untuk melaksanakannya, tetapi juga murah. Kegiatan utama
metode ini ialah proses penerjemahan, dan sama sekali tidak ada usaha untuk
mengajarkan ucapan. Karena itu, setiap pelajaran memberi gambaran tentang
kaidah bahasa, kata-kata yang harus diterjemahkan, kaidah tata-bahasa yang
harus dihafal, dan latihan penerjemahan.
E.
Ketrampilan
Berbahasa
Keterampilan
menurut Kamus besar bahasa indonesia (KBBI), berarti kemampuan, keahlian,
kecakapan, cekatan, kelihaian dalam mengerjakan sesuatu ataupun memecahkan
masalah. Keterampilan bisa juga di artikan sebagai suatu kemampuan menggunakan
akal pikiran dan ide kreatif dalam melakukan ataupun membuat sesuatu menjadi
lebih berguna atau bermakna, sehingga menghasilkan suatu nilai dari hasil
tersebut. Dengan keterampilan seseorang mampu mengerjakan suatu pekerjaan
secara efektif dan efisien.
Keterampilan terbagi menjadi dua
yaitu keterampilan fisik dan keterampilan non-fisik. Keterampilan fisik
seperti: membuat kerajinan, memasak, membangun bangunan, mengetik, dan lain
sebagainya. Sedangkan keterampilan non-fisik seperti: mengajar, menyusun karya
ilmiah, memimpin rapat, dan lain sebagainya. Ketermpilan cenderung di ikuti
oleh kebiasaan, karena seseorang yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan
tersebut akan membuatnya menjadi terampil.
Ketrampilan
berbahasa terbagi menjadi empat yaitu sebagai berikut:
1.
Keterampilan Mendengar (Maharat al-Istima’). Istimᾱ’
adalah proses menerima sekumpulan fitur bunyi yang terkandung dalam kosa kata,
kalimat yang berkaitan dengan kata sebelumnya, dalam sebuah topik. Meskipun
beberapa dikalangan tertentu hanya memahami sebatas “dengar” hearing), namun akan lebih tepat
istimᾱ’ lebih kearah “menyimak” (auding) dengan tetap konteks.
Mendengar (menyimak) merupakan suatu
keterampilan berbahasa pertama yang dilakukan oleh seseorang yang belajar
bahasa tertentu, baik seorang bayi yang mulai belajar bicara atau bahkan orang
dewasa yang ingin belajar bahasa lain. Dengan menyimak, seseorang dapat
mengukur tingkat kesulitannya dalam belajar suatu bahasa karena dari sana dapat
dipahami dialeknya, struktur bahasannya, pola pengucapannya dan lainnya.
2.
Keterampilan Berbicara (Maharat al-Kalam). Keterampilan
berbicara adalah kelanjutan dari keterampilan mendengar. Kedua keterampilan ini
saling terkait, karena orang yang pendengarannya baik dimungkinkan untuk dapat
berbicara dengan baik pula dan sebaliknya. Oleh karena itu, pengajar bahasa
bisa melaksanakan pembelajaran keterampilan berbicara seraya mengiringi
keterampilan mendengar yang telah
dimiliki siswa. Pemahaman siswa tentan topik bahasan yang diperolehnya melalui
proses mendengar dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal pengajaran berbicara.
Pada dasarnya keterampilan berbicara merupakan pengungkapan (ta’bir) dan isi
pemikiran yang telah terekam di dalam pemahaman siswa.
3.
Keterampilan Membaca (Mahârah al-Qirâah). Untuk
memiliki keterampilan membaca (Mahârah al-Qirâah) yang baik dibutuhkan
kecermatan tersendiri. Hal ini dikarenakan membaca merupakan kegiatan memahami
isi pemikiran penulis yang tentu saja tidak sedang berada dihadapan pembaca.
Kegiatan menarik pemahaman tersebut lebih sulit dibandingkan dengan pengambilan
pemahaman melalui proses pembicaraan atau dialog yang melibatkan langsung antara
pembicara (mutakallim) dan pendengar (sâmi'), di mana proses dialog tersebut
dapat melibatkan bahasa tubuh yang dapat membantu terjadinya kesepahaman yang
baik antara kedua belah pihak.
4.
Keterampilan Menulis (Maharat al-Kitabah). Berbeda
dengan keterampilan berbicara, keterampilan menulis relatif lebih sulit untuk
dipelajari dan dikembangkan. Meskipun sulit dipelajari, keterampilan menulis
tetap merupakan bagian yang penting, yang bermanfaat, yang menyenangkan.
Keterampilan menulis dapat menggunakan beberapa tehnik, yaitu: menyalin,
menjodohkan dan lain-lain.
Keterampilan menulis (Mahᾱrat al-Kitᾱbah))
merupakan keterampilan terakhir dalam beberapa keterampilan bahasa”. Untuk
menguasai keterampilan ini secara baik dibutuhkan penguasaan keterampilan
bahasa sebelumnya dengan baik pula. Hal ini dikarenakan menulis merupakan
kegiatan menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan yang tujuannya untuk dapat
dipahami oleh pembaca yang tentu saja tidak sedang berhadapan atau bahkan tidak
satu masa dengan penulis. Seluruh aspek bahasa yang meliputi penguasaan
struktur (qawa'id), kosa kata (mufradat), sastra (balaghah), dan pilihan diksi
yang baik (ikhtiyar alkalimah) sangat dibutuhkan dalam kegiatan menulis.
F.
Konsep Dasar Setrategi Pembelajaran Mengajar Dan Belajar Dalam
Standar Proses Pendidikan
A. Mengajar
1. Konsep mengajar
Konsep mengajar dalam proses perkembangannya masih di anggap
sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan ilmu pengetahuan.
Mengajar sebagai proses menyampaikan
materi pelajaran
Sebagai proses menyampaikan atau menanamkan
ilmu pengetahuan, maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik sebagai
berikut :
a.
Proses pengajaran berpusat pada guru
Dalam kegiatan pengajaran, guru memegang peran
yang sangat penting. Guru menentukan segalanya. Oleh karena itu begitu
pentingnya peran guru maka proses pembelajaran baru akan berlangsung jika ada
guru.
b.
Siswa sebagai objek belajar
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan
materi pelajaran menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi
ajar. Mereka di anggap sebagai organisme pasif yang belum memahami apa yang
harus di pahami, sehingga melalui proses pembelajaran mereka di tuntut memahami
segala sesuatu yang di berikan guru.
c.
Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan
waktu tertentu
Proses pengajaran berlangsung pada tempat
tertentu, misalnya di dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehingga siswa
hanya belajar jika hanya ada kelas yang telah di desain sedemikian rupa untuk
tempat pembelajaran.
Tujuan
utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran Keberhasilan suatu proses pembelajaran di ukur dari sejauh mana siswa dapat
menguasai materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru. Materi pelajaran itu
sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang di berikan
di sekolah.
d.
Mengajar sebagai proses mengatur lingkungan
Terdapat beberapa karakteristik dari konsep
mengajar sebagai proses mengatur lingkungan. Antara lain Mengajar berpusat pada
siswa (Student centered)
Mengajar tidak di tentukan oleh selera guru,
akan tetapi sangat di tentukan oleh siswa itu sendiri. Hendak belajar apa siswa
dari topik yang di pelajari, bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya guru
yang menetukan tetapi juga siswa
e. Siswa sebagai subjek belajar
Siswa tidak hanya di anggap sebagai organisme
pasif yang hanya sebagai penerima informasi, akan tetapi di pandang sebagai
organisme yang aktif yang memiliki potensi untuk berkembang.
f.
Pembelajaran berorientasi pada pencapaian
tujuan
Tujuan pembelajaran bukan hanya agar siswa
menguasai materi pelajaran, tetapi lebih luas dari pada itu bahwa tujuan
belajar adalah agar siswa merubah pola perilakunya menuju arah yang lebih baik.
2. Pengertian mengajar
Menurut S Nasution (2000); Mengajar adalah
suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan
menghubungkannya dengan anak sehingga terjadilah proses belajar.
Makna mengajar dalam Standar Proses Pendidikan
Mengajar dalam konteks standar proses
pendidikan tidak hanya sekadar menyampaikan materi ajaran, akan tetapi juga di
maknai sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar. Makna lain yang
demikian sering di istilahkan dalam pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa
dalam proses belajar siswa harus di jadikan pusat dari kegiatan. Hal ini di
maksudkan untuk membentuk watak, peradaban dan peningkatan mutu kehidupan
peserta didik. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi peserta didik
untuk menguasai kompetensi yang di harapkan. Pemberdayaan di arahkan untuk
mendorong pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya setiap individu
mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar.
B. BELAJAR
1. Makna Belajar
Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan di awali dengan
mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa definisi tentang belajar, antara
lain dapat di uraikan sebagai berikut :
Belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan
dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan,
meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subjek
melakukan sesuatu, jadi tidak terkesan verbalistik. Dalam arti sempit dapat di
katakan bahwa belajar adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang
merupakan sebagaian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya
A.
Faktor- faktor yang mempengaruhi belajar
a.
Minat Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
b.
Kecerdasan
Telah menjadi hal yang cukup populer bahwa kecerdasan besar
peranannya dalam berhasil dan tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau
mengikuti sesuatu program pendidikan. Orang yang lebih cerdas pada umumnya akan
lebih mampu belajar dari pada orang yang kurang cerdas di dalam lingkungan.
c.
Bakat Bakat adalah suatu kemampuan manusia untuk melakukan suatu
kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Hal ini dekat dengan persoalan
intelligensia yang merupakan struktur mental yang melahirkan “kemampuan” untuk
memahami sesuatu.
d.
Motivasi Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu atau kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang
mendorong untuk berbuat.
B.
Prinsip- prinsip belajar
·
Agar seseorang benar-benar belajar maka ia
harus memiliki suatu
·
Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-
macam kesukaran dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga
baginya
·
Belajar itu harus terbukti dari perubahan
perilakunya
·
Selain tujuan pokok yang hendak di capai, di
perolehnya pula hasil-hasil sampingan.
·
Belajar
lebih berhasil dengan jalan berbuat
·
Seseorang
belajar secara keseluruhan
·
Dalam
belajar seseorang memerlukan bimbingan dan bantuan dari orang lain
·
Untuk belajar di perlukan “Insight” Di samping
mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang juga ingin mencapai tujuan
lain
·
Adanya
kemauan dan hasrat.
Komentar
Posting Komentar